Date:2017/11/09Rate:465

Pameran Aborigin Taiwan

Taiwan merupakan sebuah pulau kecil yang berada di tepi daratan Asia Timur, di sebelah barat Samudra Pasifik. Keunikan posisi geografis serta kondisi lingkungan alam menyebabkan manusia bermigrasi ke pulau Taiwan bersama dengan mamalia dari selatan China sejak zaman es puluhan ribu tahun yang lalu. Setelah zaman es berakhir, yaitu antara 5.000-6.000 tahun yang lalu, sekelompok petani yang menggunakan rumpun bahasa Austronesia satu per satu bermigrasi dari selatan China atau Asia Tenggara ke Taiwan, menjadi nenek moyang suku aborigin Taiwan saat ini.

 

Dalam hal linguistik, suku aborigin Taiwan saat ini termasuk suku bangsa Austronesia yang menggunakan rumpun bahasa Austronesia. Pengelompokan suku bangsa Austronesia di Taiwan meliputi suku Atayal, Saisiyat, Amis, Paiwan, Rukai, Puyuma, Bunun, Tsou, and Yami (Tao). Suku Pingpu yang awalnya bertempat tinggal di area barat Taiwan juga merupakan anggota dari suku bangsa Austronesia di Taiwan. Suku aborigin Taiwan saat ini berjumlah sekitar 450.000 orang. Meskipun semua berakar dari suku bangsa Austronesia, setiap suku mengembangkan sistem sosial dan budaya yang unik. Fenomena diversifikasi suku, karakteristik sosial yang kaya dan beragam telah membentuk budaya suku bangsa Austronesia di Taiwan yang unik.

 

 

Pameran ini terbagi menjadi dua bagian:

 

1. Area Kebudayaan Prasejarah

Area ini memperkenalkan kebudayaan Taiwan di masa prasejarah, mulai dari zaman Paleolitikum (zaman Batu Lama) sampai dengan zaman Besi. Isi pameran meliputi fosil manasia paling awal yang ditemukan di Taiwan yaitu fosil “penduduk Tso-chen” yang berasal dari 20.000-30.000 tahun lalu, artefak kebudayaan dari berbagai tahapan di zaman Neolitikum (zaman Batu Baru) dari bagian barat, budaya zaman Neolitikum dari bagian timur, makam dan benda-benda pendamping kubur dari masa akhir “kebudayaan Peinan”, serta kebudayaan Shi-San-Hang sebagai inti dari kegiatan kebudayaan zaman Besi.

 

2. Area Kebudayaan Aborigin

Area ini terdiri dari 11 sub bagian, masing-masing memperkenalkan kebudayaan kelompok etnis Pingpu, suku Atayal, suku Bunun, suku Saisiyat, suku Tsou, suku Paiwan, suku Rukai, suku Puyuma, suku Amis, suku Yami, dan suku Thao.

 

Kelompok etnis Pingpu

Merupakan kelompok etnis aborigin yang tersebar di bagian timur laut dan bagian barat Taiwan, memiliki interaksi yang erat dengan orang Han selama lebih dari ratusan tahun, kelompok etnis Pingpu saat ini telah kehilangan warisan kebudayaan dan bahasa aslinya. Orang Han Taiwan juga terintegrasi ke dalam keturunan kelompok etnis Pingpu dengan komposisi yang cukup besar. Area ini menampilkan karakteristik kebudayaan dari tiga suku kelompok etnis Pingpu yang penting yaitu suku Kavalan di timur laut Taiwan, suku Pazeh dari daerah tengah Taiwan, serta suku Siraya dari daerah selatan Taiwan. 

 

Suku Atayal

Suku Atayal tersebar di daerah pegunungan di delapan kabupaten / kota di Taiwan bagian tengah, utara, serta menempati daerah pemukiman yang luas, dan merupakan suku aborigin terbesar kedua di Taiwan. Karakteristik kebudayaan benda utama suku tersebut adalah kain tenun dan tato wajah, terutama pakaian manik-manik merupakan barang yang paling istimewa, sedangkan tato wajah dianggap sebagai simbol penting kedewasaan seseorang.  

 

Suku Bunun

Suku Bunun tersebar di pegunungan bagian tengah Taiwan dan berpusat di kabupaten Nantou, merupakan suku aborigin Taiwan terbesar keempat. Suku Bunun tinggal di pegunungan pada ketinggian sekitar 1.000-2.000 meter. Cara hidup dan tradisi suku Bunun adalah bertani - membuka lahan dengan melakukan penebangan dan membakar hutan, serta berburu. Pakaian pria kebanyakan terbuat dari kulit. Suku aborigin Taiwan tidak memiliki huruf tertulis, akan tetapi suku Bunun mengembangkan “papan kalender ritual” yang unik untuk mencatat waktu festival pertanian setiap tahun. 

 

Suku Saisiyat

Suku Saisiyat tersebar di kabupaten Hsinchu dan Miaoli, dan terbagi menjadi kelompok selatan dan kelompok utara, merupakan suku aborigin Taiwan dengan populasi yang tidak banyak. Kebudayaan berupa benda dari suku Saisiyat sangat dipengaruhi oleh kebudayaan suku Atayal, hal tersebut dapat dilihat dari pakaian dan tato wajah. Upacara Penyembahan Leluhur Bertubuh Kecil (PaSta’ay Ceremony) (catatan: leluhur suku Saisiyat memiliki tubuh yang lebih kecil dibandingkan dengan suku yang lain) merupakan ritual terbesar suku Saisiyat, juga merupakan kepercayaan tradisional suku Saisiyat yang sangat penting. 

 

Suku Tsou

Suku Tsou tersebar di dalam wilayah kabupaten Nantou, Chiayi, dan Kaohsiung, terbagi menjadi Tsou Selatan dan Tsou Utara. Suku tersebut merupakan kelompok yang tinggal di pegunungan, berburu merupakan pekerjaan utama mereka, serta bertani sebagai pekerjaan pendukung, teknik membuka lahan dilakukan dengan menebang dan membakar hutan. Suku Tsou merupakan masyarakat patrilineal, setiap klan suku Tsou memiliki tempat perburuan dan perikanan sendiri, sedangkan dusun yang lebih besar memiliki “rumah pertemuan khusus pria”. 

 

Suku Paiwan

Suku Paiwan tersebar di dalam wilayah kabupaten Pingtung, Kaohsiung, dan Taitung, merupakan suku aborigin Taiwan terbesar ketiga. Kebudayaan berupa benda dari suku Paiwan yang terkenal antara lain adalah rumah papan batu, pot tanah liat, manik-manik kaca, pisau perunggu, dan ukiran. Benda-benda tersebut menampilkan tradisi kesenian unik suku Paiwan, yang juga mencerminkan strata sosial serta keyakinan suku terhadap roh leluhur dan roh ular. 

 

Suku Rukai

Suku Rukai tersebar di dalam wilayah desa Wutai kabupaten Pingtung di selatan Taiwan, desa Maolin kabupaten Kaohsiung, dan desa Peinan kabupaten Taitung. Suku Rukai merupakan masyarakat dengan strata sosial, mengutamakan nama baik dan garis keturunan keluarga bangsawan, oleh karena itu berkembanglah kesenian pakaian dan ukiran rumah yang halus. Kebudayaan berupa benda dari suku Rukai yang sangat terkenal di seluruh dunia antara lain meliputi rumah papan batu, pot tanah liat, manik-manik kaca, dan ukiran.

 

Suku Puyuma

Suku Puyuma tersebar di desa Peinan kabupaten Taitung dan kota Taitung, terbagi menjadi kelompok Peinan dan Chihpen. Anak laki-laki berusia 11 sampai dengan 13 tahun akan berpartisipasi dalam ritual 'tusuk monyet' (dalam bahasa suku Puyuma: mangamangayau, secara harfiah memiliki arti: berlatih dan berlatih), masuk ke “rumah remaja” untuk menerima pelatihan; laki-laki berusia 19 hingga 20 tahun akan melaksanakan upacara penanda dewasa. Sistem penggolongan usia serta organisasi tempat tinggal bertujuan untuk memastikan kelangsungan warisan tradisional suku, serta merupakan fondasi dan motivasi bagi kelompok Peinan untuk tinggal dan berpijak dengan kukuh di dataran Taitung. 

 

Suku Amis

Suku Amis tersebar di bagian timur Taiwan, Hualien, Taitung, dan Pingtung, merupakan suku aborigin Taiwan dengan populasi terbesar. Suku Amis merupakan masyarakat matrilineal dan melaksanakan pernikahan uksorilokal (pengantin baru akan mendirikan rumah tangga di dekat pemukiman keluarga pengantin perempuan), tetapi saat laki-laki memasuki usia dewasa, mereka akan memasuki 'organisasi usia', sistem sosial berdasarkan pengelompokan usia yang tertata mulai dari muda hingga tua diterapkan di dalam kehidupan suku Amis. Tembikar dan keranjang tenun yang dibuat oleh wanita merupakan benda khas kebudayaan suku Amis.

 

Suku Yami

Suku Yami bertempat tinggal di pulau Lanyu yang terletak di bagian tenggara Taiwan, merupakan satu-satunya suku aborigin Taiwan yang tidak tinggal di dalam pulau Taiwan. Suku Yami merupakan kelompok etnis nelayan, kebudayaan berupa benda yang memiliki karakteristik unik dari suku Yami antara lain berupa perahu papan nelayan dengan hiasan ukiran, ukiran kayu, tembikar, serta kerajinan emas dan perak. Suku Yami menyebut kata “orang” sebagai “tao”, karena itu beberapa tahun terakhir, Suku Yami juga dikenal sebagai “suku Tao”. 

 

Suku Thao

Suku Thao tinggal di Sun Moon Lake yang terletak di desa Yuchi kabupaten Nantou, merupakan suku aborigin Taiwan dengan populasi yang sangat kecil. Suku Thao hidup dengan cara bertani, berburu, menangkap ikan, dan mengumpulkan makanan. Karena tinggal dekat Sun Moon Lake, mereka menciptakan cara memancing yang unik seperti “umpan rakit bambu” serta peralatan di atas danau seperti “perahu kano”. 

 

Rencana Pembaruan Pameran Tetap Suku Aborigin Taiwan

Area pameran ini dibuka pertama kali pada tahun 2002, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan suku aborigin, saat ini jumlah suku aborigin yang diakui oleh hukum telah berkembang menjadi 14 suku. Terdapat begitu banyak benda koleksi pameran yang ditampilkan tanpa adanya rotasi serta beresiko mengalami penuaan, teknik perencanaan dan penampilan ruang pamer secara keseluruhan juga sudah kuno, terdapat perbedaan yang menonjol antara koleksi barang-barang aborigin dengan citra yang seharusnya dimiliki oleh Museum Nasional Taiwan yang telah berusia ratusan tahun. Oleh karena itu, museum berencana akan melaksanakan pembaruan secara besar-besaran terhadap pameran tetap ini, dengan mengambil arah yang berlandaskan pada kesinambungan penampilan koleksi sejarah kebudayaan yang dimiliki oleh museum, perluasan benda-benda pada kategori sosial budaya serta mempertahankan keunikan karakteristik tradisional dan peralihannya. 

Informasi Pameran

Waktu pelaksanaan:2017/11/09

Lokasi pameran:National Taiwan Museum

Sifat:Pameran Permanen

Pameran Lainnya