Date:2015/10/06Rate:400

Mengukir Kehormatan – Tato Tangan Suku Paiwan, Laiyi

Dusun Laiyi Kabupaten Pingtung merupakan desa dimana terdapat banyak para tetua suku Paiwan yang memiliki keahlian dalam tato tangan, namun sangat disayangkan keahlian tato tangan tradisional yang sangat berharga ini secara perlahan mengalami kepunahan. Demi melestarikan dan mencatat kebudayaan tato tangan yang hampir punah ini, Kementerian Kebudayaan melalui Museum Nasional Taiwan bekerja sama dengan Kantor Kelurahan Laiyi Kabupaten Pingtung (Museum Suku Pribumi Laiyi) mengadakan pameran yang bertema “Mengukir Kehormatan – Tato Tangan Suku Paiwan, Laiyi” di Museum Nasional Taiwan, pameran berlangsung pada tanggal 6 Oktober 2015 hingga 10 April 2016. Pameran tersebut menampilkan gambar dan video berharga mengenai tato tangan para tetua yang ahli dan dihormati, video wawancara langsung, serta benda-benda berupa ukiran patung-patung suku Paiwan. Melalui pameran ini sangat diharapkan kebudayaan tradisional tato tangan suku Paiwan dapat disebarluaskan, masyarakat dapat melihat dari dekat dan mengenal lebih dalam kebudayaan tato tangan suku Paiwan.

 

Tato tangan bagi suku Paiwan merupakan warisan kebudayaan yang sangat berharga, para nenek tetua suku Paiwan yang ahli dalam hal tato tangan sebagian besar tinggal di kabupaten Pingtung, sebanyak dua pertiganya tinggal di Dusun Laiyi, dapat dikatakan Laiyi merupakan rumah bagi para tetua tersebut. Bagi masyarakat tradisional suku Paiwan, melukis tato merupakan suatu kehormatan, juga merupakan lambang sosial di dalam masyarakat, bagi para pria tato dilukis di tubuh bagian atas di sekitar dada, punggung dan lengan atas, bagi para wanita tato dilukis di bagian punggung tangan. Tato melambangkan kekuasaan dan pembagian kelas sosial, mencerminkan prinsip strata sosial yang jelas di dalam masyarakat suku Paiwan.  

 

Budaya tradisional melukis tato bagi para wanita suku Paiwan hampir mendekati kepunahan. Sekitar enam puluh tahun yang lalu, atas prakarsa masyarakat suku Paiwan yang tinggal di dusun Laiyi kabupaten Pingtung, pelukisan tato tangan bagi wanita sempat dihidupkan kembali selama 2 tahun. Kini, para wanita yang ahli melukis tato tangan tersebut telah memasuki usia 80 tahun, budaya tradisional melukis tato suku Paiwan mengalami kepunahan. Demi melestarikan warisan budaya melukis tato tangan suku Paiwan di dusun Laiyi, dengan memperhatikan akar-akar kebudayaan, para pejabat di Museum Suku Aborigin dusun Laiyi Kabupaten Pintung, masyarakat suku Paiwan, serta para ahli sejarah setempat mulai melakukan penelitian secara langsung terhadap kebudayaan melukis tato tangan, melakukan wawancara dan mencatat secara rinci kehidupan dan kenangan seorang vuvu penato tangan (dalam bahasa Paiwan, secara harfiah vuvu berarti nenek).

 

Pameran ini menampilkan hasil wawancara dan film dokumentasi mengenai cerita kehidupan seorang nenek pelukis tato tangan di dusun Laiyi yang sangat berharga, memaparkan arti yang tersirat dalam sistem tato tangan yang berlaku di dalam masyarakat suku Paiwan, gambar tato serta tata cara pelaksanaannya. Selain itu, melalui pameran ditampilkan pula dokumentasi mengenai pelestarian, perekaman serta penyebarluasan mengenai warisan budaya tak benda yang dilaksanakan di dusun oleh para pemerhati kebudayaan. Melalui kerja sama dalam pelaksanaan pameran, hubungan antara Museum Nasional Taiwan dan desa adat pun terjalin menjadi lebih erat.

Informasi Pameran

Waktu pelaksanaan:2015/10/06

Lokasi pameran:National Taiwan Museum

Sifat:

Pameran Lainnya